Kemacetan, Sahabat Manusia pada Dekade Ini

Kemacetan

Macet, tampaknya kata ini telah menjadi sesuatu yang sangat akrab, bahkan karib di telinga para manusia yang berdomisili di daerah perkotaan. Terutama jika pada jam-jam tertentu. Sebut saja ketika jam menunjukan pukul 4 sore yang notabenenya merupakan jam pulang bagi para karyawan, anak sekolah dan segelintir mahasiswa. Macet merupakan sesuatu yang pasti akan anda alami jika anda masih “berkeliaran” di jalan raya menjelang matahari terbenam.

Macet memang merupakan sebuah masalah yang dapat dikatakan klasik, sangat sulit untuk dipecahkan dan dicari solusinya karena macet di sini akan berhubungan langsung dengan volume kendaraan. Belum lagi dengan infrastruktur di perkotaan yang banyak disalahgunakan, semisal trotoar yang banyak digunakan para pedagang kaki lima. Tetapi janganlah kita menjadi manusia yang mengaku memiliki otak yang masih berfungsi baik jika masih berpikiran sempit dengan mengkambinghitamkan para pedagang kaki lima sebagai akar permasalahan dari kemacetan, mereka menggelar lapak di trotoar bukan tanpa alasan. Menyewa sebuah tempat yang dapat dipergunakan untuk berdagang disebuah pasar tradisional bukanlah sesuatu yang murah pada saat ini, maka berdagang di sisi jalan adalah salah satu solusi alternatif untuk tetap dapat memberikan sesuap nasi kepada masing-masing keluarga dari para pedagang kaki lima tersebut. Jadi di sini dapat ditarik sebuah benang merah antara tingkat kesejahteraan, sulitnya pekerjaan dengan kemacetan. Ini memang tampak terlihat rancu kasualitasnya, tapi marilah kita renungkan.

Kembali ke kemacetan. Kemacetan memang tidak akan menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin tetapi stres merupakan sesuatu yang dapat timbul. Ane juga di sini merupakan seorang manusia yang dapat dikatakan bersahabat dengan kemacetan. Setiap harinya sepulang bekerja ane selalu menjumpai kemacetan. Jarak yang dapat ditempuh dalam tempo 20 menit dengan menggunakan angkutan umum, setiap harinya ane tempuh dalam waktu hampir 2 jam bahkan lebih pada saat hari libur dan akhir pekan. Stres? Heeh banget.

Tempat tinggal ane di daerah Kopo, Bandung memang cukup dikenal sebagai titik yang rawan akan kemacetan sedari dulu. Menggunakan kendaraan apapun, macet merupakan sebuah kepastian yang ane dapatkan.

Bagaimana di daerahmu kawan? Apakah kemacetan merupakan sesuatu yang wajar?

NB: Mohon maaf akhir-akhir ini ane jarang ngepost dan bw, agak sibuk di dunia nyata hehehe.

Sumber gambar: http://www.pikiran-rakyat.com

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

28 Responses to Kemacetan, Sahabat Manusia pada Dekade Ini

  1. yisha says:

    macetttttttttttt………. 😦

  2. izzawa says:

    jalan kaki aja pena,,,,biar sehat 😆

  3. Ely Meyer says:

    di kampungku sini bisa dikatakan nggak ada macet 😛

  4. Mila says:

    Alhamdulillah ….. desa saya tidak ada macet yang berarti 🙂

  5. SanG BaYAnG says:

    Hehehe.., seolah tak ada ruang senggang ya mas.. 😀

  6. 2PAI says:

    loe tinggal di “city”, gue tinggal di “town”. Jadi kalo di tempat gue yaa… jarang macet. selalu lancar malahan. Paling macet kalo ada kecelakaan aja.
    sabar Mas! hidup di perkotaan memang seperti itu.
    kalo berangkat pagi hari, macetnya bisa disiasati dengan berangkat lebih awal.

    😎 salam 2PAI

  7. cumakatakata says:

    kadang macet juga dikit Mas…..
    😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s