Rumah Kardus (Flash Fiction-Cerpen)

Bulan tampak cerah, angin bertiup dingin tiada berarah, sapa kulit yang terbungkus baju bermandikan keringat dari celana sampai kerah.

Benar-benar hari yang melelahkan di kantor, file-file yang sedari tadi gauli pikiranku tampak masih penuhi setiap sudut otak. Itulah sebabnya aku memilih berjalan menuju rumah dengan harapan angin sepoi yang menerpa kepalaku sepanjang jalan berhasil menculik pergi file-file tersebut, membawanya jauh agar mereka tidak dapat kembali.

Ada pemandangan tidak biasa di perempatan, tampak rumah-rumah kardus berjejer memenuhi sudut-sudut trotoar. Padahal kemarin rumah-rumah itu tidak ada. Rumah-rumah kardus memang ada di kota kami, tapi tidak sampai memenuhi trotoar, rumah itu hanya ada di zona-zona kumuh, zona yang dengan lantang dan gamblang menjabarkan bahwa ketimpangan sosial masih nyata ada. Tapi apakah mungkin dalam satu hari saja angka kemiskinan begitu melonjak tinggi?
Akan kutanyakan hal ini kepada kakek, karena beliaulah yang paling mengetahui perkembangan negeri ini dari inci ke inci. Kuputuskan untuk menginap di rumahnya yang hanya berjarak satu blok dari rumahku

Sesampainya, aku dapati kakek duduk di kursi, tampak beliau sedang melamun, jauh dan lekat sekali menatap langit, seakan beliau ingin membongkar, lalu menejermahkan langit yang berlapis-lapis itu menjadi rangkaian nasihat panjang.

“Lembur?” Sapanya ketika kumasuki rumahnya yang blas tiada berpagar.
“Iya, biasa kek,” jawabku sembari melepas sepatu dan segera duduk bersila di ubin pekarangan.
“Kakek tidak menonton tv?” Tanyaku kembali sembari membalikan badanku ke hadapannya.
“Ah, tv sekarang sudah tidak layak ditonton acaranya,” jawabnya.
“Loh mengapa? Bukannya kemarin-kemarin kakek gemar sekali menonton tv?” Ujarku keheranan.
“Hari ini berbeda dengan kemarin-kemarin, kini tv hanya menayangkan apa yang mudah dijual kepada para pemirsanya, sebal kakek melihat idealisme mereka yang tersamarkan lembaran rupiah,” jawabnya.
“Lah kan masih ada acara berita, penting loh itu kek, untuk informasi,” timpalku.
“Tapi hanya berita menarik yang diberitakan, dan berita menarik itu biasanya berita tidak penting. Sedang berita penting yang tidak menjual tidak akan disiarkan, sekalipun ada berita penting yang disiarkan, beritanya tidak tuntas diusut, berhenti di tengah jalan ketika dianggap sudah tidak menjual.”

Perbincangan kami berlanjut sampai tengah malam, seperti biasa, kakek yang menyetir pembicaraan. Kakek banyak menyinggung soal generasi penerus yang apatis, yang hanya mengurusi kepentingannya tanpa sedikit pun peduli terhadap bangsa. Aku hanya nyengir, karena aku adalah salah satu dari generasi penerus yang seperti itu. Tak hanya itu, bahkan kakek kerap menyindir para manusia yang namanya dipenuhi gelar, kakek menyebut keberadaan mereka sama sekali tidak berarti, aku sempat membantah pendapatnya, tapi jawabannya benar-benar mencheck-matt mulutku. Dia menjawab:
“Lalu mengapa ketimpangan sosial masih ada? Dari dulu sudah banyak sekali lulusan-lulusan perguruan tinggi tapi nyatanya Republik ini hanya berjalan di tempat, mereka itu mengaku berpendidikan, tapi tak bisakah mereka menyusun sebuah terobosan revolusioner? Mereka hanya berpikir sekolah, lalu bekerja. Persetan dengan bangsa. Mereka memang menjadi kaya, tapi adakah efek dari kekayaan mereka untuk memperbaiki kondisi bangsa? Banyak sekali yang seperti itu, akhirnya si miskin sama sekali tidak dipedulikan, oleh siapapun. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin.”

Kakek terus berbusa, dia bahkan mengatakan bahwa Republik ini telah sampai di pukul 5 sore. Ungkapan yang entah bermakna apa.

Menjelang tengah malam kakek mengantuk, kami pun segera masuk ke rumah dan tidur.

Esoknya aku pergi ke kantor berjalan kaki. Aku melewati perempatan di mana kemarin ku lihat rumah kardus yang berjejer. Dan gila! Rumah-rumah kardus itu semakin banyak, bahkan sampai tepat ke depan kantorku.

Aku ingat pembicaraan kakek menjelang tengah malam kemarin. Beliau mengatakan para penghuni rumah kardus adalah mereka, manusia-manusia yang tidak memiliki pilihan. Mereka datang dari kota yang kini berlumpur. Kakek juga menyebutkan bahwa mereka adalah manusia yang tidak memiliki kenangan akan masa lalu. Walaupun sebenarnya ada, kenangan-kenangan itu kini telah hilang, hilang seperti kota dan rumah-rumah mereka yang kini ditelan lumpur. Sebenarnya Masih ada beberapa diantara mereka yang menyimpan kenangan tentang kelabu silam, tetapi walaupun kenangan itu tetap tersimpan dan tidak hilang kenangan itu kini tertutup lumpur yang kini memenuhi setiap sudut jiwa mereka. Dan menurut kabar, lidah mereka sudah tidak dapat merasakan manisnya gula, karena bagi mereka kini, setiap rasa yang mampir di lidah mereka adalah pahit, pahit sepahit-pahitnya.

Bandung, 2012

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

25 Responses to Rumah Kardus (Flash Fiction-Cerpen)

  1. yisha says:

    hiksssssss……………
    kaka, jangan bikin kisah pedih dong……
    yisha kan cengeng……….. 😦

  2. Sii Isni says:

    Hi Bachtiar, tulisannya sudah bagus. Sebagai pembaca, boleh kan saya kasih saran? 😀
    Sepengalaman saya dalam menulis fiksi, saya pernah mendapatkan dua ilmu yang bisa saya bagi kepada kamu juga tentunya. Seperti dalam FF di atas, pada paragraf pertama dalam satu kalimat kamu menggunakan beberapa tanda koma untuk memisahkan cerita. Saya rasa masih bisa dirapatkan dg titik dan pembaca tidak merasa lelah dalam membaca. Menurut kamu, lebih enak membaca kalimat yang pendek, atau yang panjang? Kembali kepada penulis karena itu hak penulis. Oke.
    Yang kedua, untuk kata ‘ku’ itu disambung penggunaannya. Misalnya, kudapati, kuterima, kulalui. Sedangkan yang dipisah adalah kata ‘aku’, aku terima, aku lalui.
    Hehe, kira-kira gitu deh. Kalau ada salah yang saya sampaikan, saya minta maaf ya. 🙂
    Salam menulis

  3. Ely Meyer says:

    wah .. aku malah baru tahu kalau si is pandai nulis fiksi

  4. jayputra9 says:

    Cerpen fiksi yang menggambarkan kenyataan. sangat menyentuh kak.

    Baca cerpen kk, saya jadi tertarik buat cerpen lagi.

  5. pena usang says:

    Mba izz, dengan kualitas ane yg kaya gini masih sulit tembus ke dunia mayor. Minder ane mba, lagipula tulisan-tulisan ane ini cuma wujud kegerahan ane terhadap sistem. Dan tulisannya pun masih terlalu ringan untuk disebut sastra, dan kurang renyah jika dikategorikan pop. Yang gini nih yg sering ditolak penerbit huhuu

  6. SanG BaYAnG says:

    Asyik gan sedikit selipan mengkritisi dalam dalam keremanganya.. 😀

  7. kangyaannn says:

    baca cerita fiksi di atas langsung inget LAFINDO gan….

  8. pena usang says:

    Ya memang itu kang, cerita di atas merupakan bentuk kegerahan ane terhadap kasus lumpur lapindo yg membuat orang tiada berdosa menderita dan kehilangan segalanya, juga keprihatinan ane karena kasus terasa mulur dan berkepanjangan, tidak terbayangkan derita yg kini dirasakan para korban

  9. Gak ada salahnya kok dicoba kirimin ke majalah atau koran..

  10. mintarsih28 says:

    maintream jurnalis kapitalis. berita tak penting asal mendtangkan fulus di situ ditayangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s