Taman Mediterania (Flash Fiction-Cerpen)

Oleh: Bachtiar

Malam mulai tutup bumi dengan semu gelap, matahari belum penuh hilang tapi telah tampak tiarap, memijak bumi perlahan tenggelam lelap.

Samar, ku telanjangi hamparan metropolitan yang tergambar di jendela kereta, buram. Bau-bau uap keringat dari manusia-manusia yang memadati kereta bercampur satu, menyelusup masuki hidungku. Bahkan bulu-bulu hidung yang sejatinya merupakan filter itu sudah tak kuasa menyaringnya. Emmmh! Sungguh suatu siksaan, bau dari keringat-keringat itu sungguh tak dapat ku lukiskan, bau yang sungguh rumit, lebih rumit dari kubisme sang Picasso. Bedanya lukisan Picasso selalu memiliki arti, tapi bau-bauan ini hanyalah keringat, miskin makna, bahkan mungkin tak punya. Aku yang harus berdiri karena sesaknya kereta ini semakin tak merasa nyaman.

Braaak!
“Eeeeh, Maaf.”
Terasa seseorang menabrakku dari belakang, ini pasti akibat dari goncangan kereta yang direm karena masuki stasiun. Reflek ku tolehkan wajahku ke belakang, dan apa yang ku lihat buat kepalaku terpaku, tak bisa ku balikan kembali ke posisi wajar, tampak sesosok wanita menundukan kepala, senyum menyungging dari bibir tipisnya, kacamata minusnya tampak ditopang hidung yang mancung menarik, rambutnya yang menutupi dahi itu membuatnya semakin cantik.

Dan ajaib, bau-bauan yang tadi menyengat dan membuat bulu hidungku mendadak ikal dan keluar dari lubangnya itu menghilang, sekelilingku yang tadinya merupakan kereta ekonomi bobrok dengan karat di sana-sini sekarang menjelma menjadi taman dengan bunga bermacam warna, bukan main! Taman bergaya mediterania! Tikus-tikus yang sedari tadi selalu melintas mendadak berubah menjadi hewan manis semacam hamster di serial kartun minggu pagi.

“Maaf mas, karcisnya…” Tiba-tiba ada suara dengan nada berat di samping, ku tolehkan wajah, dan tampak seorang lelaki berkumis baplang bergaya dekade 70’an meminta karcis, tak lain itu adalah kondektur. Kebaplangan kumisnya membuat suasana taman bunga mediterania tadi menghilang, kembali menjadi kereta dengan interior yang telah bobrok. Setelah ku berikan karcis, dia berlalu. Aku kembali menoleh ke tempat tadi, tampak wanita tadi masih tersenyum. Aku pun tersenyum.

Berhubung sebagian penumpang telah turun, tempat duduk di depanku berdiri menjadi kosong. Ku persilahkan wanita tadi untuk duduk, ternyata kursi masih tersisa untuk diduduki dan wanita tadi mempersilakanku untuk duduk, mungkin dia akan turun di stasiun selanjutnya, sama sepertiku. Lama kami duduk bersebelahan. Semakin lama ku lihat, semakin cantik ia. Sesekali pandangan kami bertemu. Aaaah…

“Ooh Tuhan, aku mohon, jauhkanlah jarak ke stasiun selanjutnya. Atau biarkanlah rem kereta blong, tidak dapat diberhentikan, atau hanya dapat diberhentikan di ujung dunia, Amin, ” batinku.

Benar kata Pak Kyai, do’a yang tidak baik tidak akan dijawab Tuhan. Kereta pun sampai di stasiun pemberhentianku, benar apa pemikiranku, wanita itu turun disini, sesaat sebelum dia berdiri, dia tersenyum menatapku,
“Duluan mas…,” ujarnya
“Eeeeh iya..” Aku tersentak melihat tatapannya yang… Ah, senyuman Monalisa yang legendaris itu pun kalah indah, dan suaranya… Belum pernah ku dengar suara semerdu itu, kemerduan yang tidak ku temukan, bahkan di simfoni Bethoven.

***

“U, besok tolong interior ruangan diperindah ya, jangan lupa beri aksen dengan melapisi tembok memakai wallpaper bercorak kayu,” ucapku kepada Uu, ketika dia masuk ke ruanganku sembari mengantarkan kupat tahu untuk sarapanku.

“Siap Mas..,” jawabnya.

“Jer, ini ada karyawan baru, dia akan jadi sekertaris kamu, namanya Lidia,” ujar bos ku yang tiba-tiba masuki ruangan sembari memperkenalkan seorang wanita.

Dan ketika wanita itu masuki ruangan, aku terperanjat.

“Sejak kapan hidupku menjadi seperti lakon opera sabun?” Batinku.

Wanita itu tak lain adalah wanita yang ku temui di kereta ekonomi bobrok kemarin sore, wanita yang mengubah tampilan kereta bobrok tua menjadi taman bergaya mediterania.

Aku berdiri dari kursiku, tersenyum kepadanya dan dia membalas senyumanku.

Lalu dengan bergaya sembari membetulkan dasi, aku melirik Uu sembari berkata

“U, sudah tidak usah memperbaiki interior ruangan ini, tak usah pula kamu membeli wallpaper bercorak kayu, aku sudah memiliki taman mediterania di ruanganku sekarang.”

Uu melongo, mulutnya terbuka.

***

Bandung, 2012

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

15 Responses to Taman Mediterania (Flash Fiction-Cerpen)

  1. uyayan says:

    wow,,,, betapa senangnya…

  2. Ilham says:

    wah misterius ceweknya. kirain tadi ada horor2nya.

  3. yisha says:

    keyen kaka keyeeeeeeeeeeeeen………… 😀

  4. cumakatakata says:

    sayang fiksi….. heheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s