Semangkuk Nasionalisme (Flash Fiction)

“…. di era globalisasi ini, sudah saatnya Indonesia berperan aktif baik secara regional maupun global dalam perekonomian dunia. SDM Indonesia yang melimpah dan SDA yang juga melimpah sudah saatnya dijadikan senjata ampuh. Momentum usia 67 tahun ini merupakan saat yang tepat dimana kita dapat memulai sebuah era perjuangan baru… Merdeka!!! …”

Akhirnya pidato kepala sekolah sampai di akhir, saat yang paling ku tunggu untuk segera menghambur ke luar sekolah dan melanjutkan hari di tempatku berkumpul bersama para anak muda lain di tempat biasa. Pesta kami menyebutnya. Dua botol stout dan empat bungkus rokok sudah terbungkus rapi di balik tumpukan buku di ranselku. Pidato kepala sekolah bagiku hanya seperti sepenggal retorika pejabat teras yang sedang dicalonkan masuki pilpres, berbusa hanya untuk mendapatkan suara masyarakat, sama sekali tak ku indahkan. Bahkan pidato yang baru 5 menit lalu itu mampir di telinga saat ini sudah ku lupakan. Jarak sekolah dan tempatku berkumpul itu memang tidak terlalu jauh, maka ku putuskan untuk berjalan kaki.

Pemandangan di jalan kini terkomposisi dari merah dan putih, tiang-tiang dari bambu lengkung yang dihiasi kain berwarna-warni tampak di sana-sani. Distorsi pemandangan yang terus berulang setiap tahunnya disetiap tanggal 17.

Bendera

Tampak di ujung jalan, di bawah tiang lampu merah, seorang tua duduk sembari menengadahkan tangan dan mendongakan wajahnya ke langit, kerutan di wajahnya tampak jujur ungkapkan seberapa lama ketidakadilan mengkorosi hidup. Di sudut lain di depanku terlihat sekelompok anak bermain berkejaran satu dengan lain di trotoar yang telah retak di sana-sini, dengan baju kumal dan bertambal mereka berlarian memutar tak tentu arah sembari tertawa. Tak jelas apa yang mereka tertawakan, mungkin mereka tengah menertawakan orang-orang di dalam poster yang dipajang di sebuah sisi jalan. Orang-orang dalam gambar tersebut tampak berbatik, tersenyum, entah kepada siapa. Di bagian bawah gambar terdapat kata-kata indah membuai, kata-kata manis yang lebih manis dari gula, tapi entah, berdasar beberapa pengalaman sebelumnya, selalu ada pahit yang tersisa dari manisnya kata-kata tersebut. Lampu berubah merah, tampak seorang ibu ringkih berjalan menghadapkan telapak tangannya ke setiap orang yang ada di hadapannya. Anak-anak yang tadi berlari-lari tak jelas memutar-mutar itu ikut menghambur ke jalan dan segera menggelar konser mereka di pintu angkutan umum. Mengapa mereka berkeliaran? Tidakkah mereka bersekolah? Tidakkah mereka mendengarkan pidato panjang kepala sekolah di hari ini sepertiku?

Aku yang berjalan di trotoar menatap mengiba ke sebuah bendera yang tertancap tepat di depan toko yang kulewati, lalu kepada sang saka aku bertanya, dari sudut sebelah manakah negeri ini disebut merdeka?
Apakah dari lepasnya belenggu asing?
Pada hari kemarin ku baca headline koran sore tentang sebuah perusahaan asing di bagian timur Indonesia yang terus menyedot kekayaan bumi pertiwi tanpa diiringi kesejahteraan penduduk sekitar.

Berhubung perutku telah keras memanggil, aku mampir di sebuah kedai bubur di pinggir jalan. Roda buburnya tampak dihiasi pernak-pernik yang kesemuanya berwarna merah dan putih. Kursi meja pelanggan yang terletak di balik rodanya pun di cat merah dan putih. Ku pesan bubur satu mangkok tanpa kecap. Aneh sekali, pedagang bubur yang terhitung lansia ini tampak bergaya sekali dengan pakaian khas veteran. Melihat aku yang duduk sambil terheran, dia yang sedang menyiapkan bubur tersenyum kepadaku sambil berkata
“Kostum hari kemerdekaan de, mengenang masa perjuangan bapak dulu heheheh,” dia berkata sembari tersenyum. Belum sempat aku menjawab, lagu Indonesia Raya terdengar mengalun dari radio si bapak, tampaknya sekarang tepat pukul sepuluh, tepat saat pertama Indonesia merengkuh merdeka. Dia langsung berhenti mengurus buburnya, berdiri tegak dan menghormat kepada bendera toko sebelah yang tadi ku tanyai tentang arti kemerdekaan. Tampak khidmat sekali. Seusai lagu dia bertanya “Kenapa kamu tidak berdiri dan menghormat?” tampak dia terheran,
“Bukankah ketimpangan masih banyak tertera dimana-mana, lihatlah ke sudut jalan pak, anak-anak masih mengais rupiah tanpa dapat sekolah,” aku menjawab sekenanya.
“Kemerdekaan bukan berarti lepas seutuhnya de, ada semangat yang mesti dikobarkan untuk meneruskan semangat yang dulu ada untuk benar-benar lepas seutuhnya, buka pikiran kamu de, kemerdekaan bukan berarti mewarisi, tapi meneruskan,” ujarnya sembari menyajikan bubur pesananku.
“Maaf pak, saya tahu bapak adalah seorang veteran, tapi saya tidak melihat harga yang dibayar negara untuk nyawa yang bapak pertaruhkan. Dan sampai usia bapak yang sesenja ini, bapak harus tetap menjajakan bubur. Maaf sekali pak, bukan maksud saya agar jasa diuangkan, tapi tetaplah harus ada timbal balik, bukankah seharusnya negara lebih memberi perhatian pada bapak?”

Bapak penjual bubur itu mendekatiku dan duduk disebelahku, dia tersenyum dan berkata,
“Janganlah tanya apa yang telah diberikan negara padamu, tapi tanyakanlah, apa yang telah kamu berikan pada negara,” dia berkata sembari tersenyum dan menepuk-nepuk punggungku, lalu berdiri dan berlalu kembali ke gerobak buburnya yang hanya berada sekitar semeter di depanku.

Aku terenyuh. Mental goblokku sebagai generasi penerus yang hanya sebatas hura-hura, alkohol dan rokok merasa teraduk. Ku tatap dua botol stout yang terselimuti ransel sekolahku. Ku tatap pula nasionalisme dangkal yang menggema jauh di dalam diri.
Aku terenyuh, terenyuh seterenyuhnya.

Bandung, 2012

Sumber Gambar: http://images.hariansumutpos.com

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Semangkuk Nasionalisme (Flash Fiction)

  1. Ilham says:

    nice story gan. kemerdekaan itu emang untuk diteruskan dan diperjuangkan bersama.

  2. pena usang says:

    Ini juga ane udah lama banget ga ngarang, ga tau kenapa ya, berasa kekeringan inspirasi ini. Iya mba Rahma, ane juga selalu masalah di bikin dialog dan menciptakan konflik, malah ane kalo bikin fiksi berasa terlalu maksa di penggambaran latarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s