Wayang Golek – Nilik Budaya

Wayang Golek

Hellyeah, ketemu ama ane lagi. Mohon maaf, karena satu dan lain hal, ane baru bisa ngepost rubrik ini hari ini, padahal draftnya udah selesai dari kemarin, cuma belum diedit. Jika kemaren udah ngebahas wayang kulit, sekarang kita coba share tentang wayang golek. Jika wayang kulit lebih banyak dikenal di Jawa Tengah, wayang golek ini malah populer di Jawa Barat, sampe sekarang pementasannya di Jawa Barat masih cukup giat, terlebih karena ada figur si cepot (udah ane bahas di minggu pertama) yang begitu memasyarakat, walaupun si cepot di sini lebih modern dan mengikuti zaman dalam skenario cerita yang dibawain dalangnya, dan terkadang hanya sedikit terkait ke Ramayana dan Mahabarata, tetapi walaupun begitu, si cepot ini tetap mewakili unsur budaya secara general.

Back to the topic, jika di si cepot, lakon wayangnya lebih beragam, di pertunjukan wayang golek tradisi, lakonnya tetap merujuk ke Mahabarata dan Ramayana. Nah wayang golek ini mulai populer di tanah Jawa, orang yang mempopulerkannya adalah Sunan Kudus, salah satu tokoh penyebar agama Islam.

Pertunjukan wayang golek banyak dipentaskan dengan pake
bahasa Sunda. Pas pementasannya, pertunjukan wayang golek diiringi oleh musik, yaitu musik gamelan Sunda
(salendro), yang terdiri
atas dua buah
saron,
sebuah peking, sebuah
selentem, satu perangkat
boning, satu perangkat
boning rincik, satu
perangkat
kenong,
sepasang gong (kempul dan
goong), ditambah dengan
seperangkat
kendang
(sebuah kendang Indung
dan tiga buah kulanter),
gambang dan rebab.

Nah, wayang golek sendiri terbagi jadi tiga jenis, Wayang golek
cepak, wayang golek
purwa, dan wayang golek
modern. Yang pertama wayang golek
papak (cepak), wayang jenis ini terkenal di
Cirebon, sumber lakonya dari cerita
babad dan legenda. Bahasa yang digunakan dalam pementasannya adalah bahasa
Cirebon. Kedua, wayang golek
purwa. Wayang golek ini lebih kental tradisinya, root ceritanya seperti wayang pada umumnya, yaitu
khusus membawakan cerita
Mahabharata dan Ramayana. Bahasa yang digunakan adalah bahasa sunda. Nah, yang ketiga adalah
wayang golek modern, yang jenis inilah yang paling laris ditonton karena lakon udah dilengkapi dengan setting memadai
seperti penggunaan efek-efek listrik. Wayang
golek modern dirintis oleh
R.U. Partasuanda dan
dikembangkan oleh Asep
Sunandar

Pertunjukan wayang golek terus ngalamin perkembangan dan sejak 1920-an, sinden mulai mengambil peran untuk ngisi audio pertunjukan dengan menyanyikan lagu-lagu tertentu.

Nah sekarang dari segi pembuatan.
Wayang golek terbuat dari kayu, dan menurut beberapa sumber, jenis kayunya adalah
albasiah atau lame. Cara
pembuatannya adalah
dengan meraut dan
mengukirnya sesuai pola, setelah itu dilakukan proses pewarnaan.
Pewarnaan wayang
merupakan bagian yang penting
karena dapat menghasilkan dan “ngeluarin” berbagai karakter tokoh. Kalo kita perhatiin secara seksama di setiap pertunjukannya, ada beberapa warna dasar yang
biasa digunakan yaitu:
merah, prada, hitam dan putih.

Cukup sekian ya bray, maafin karena ini kurangnya masih banyak.

Sumber Gambar: http://bandung.panduanwisata.com/files/2011/10/wayanggolek2.jpg

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Nilik Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s