Screaming for an Attention

Sistem dunia, tampak memang salah, terkesan tak adil. Bukan Tuhan yang tak adil, tapi sistem manusia yang salah, pencipta sistemnya adalah segelintir manusia. Manusia lagi, manusia lagi.

Idealisme ngawur, persepsi pun nyeleneh, berefek pada terjadinya orientasi keadilan yang salah. Keadilan buat yang punya uang, keadilan buat si kantong tebal. Lalu yang lain? Tersisih tanpa kompromi.

Lalu mengapa harus ada mayoritas dan minoritas?
Si minor yang harus digambarkan sebagai si kecil yang terintimidasi, si kecil yang selalu berat untuk melangkah, si kecil yang selalu terkorosi keabsrudan. Sedang si besar yang selalu gagah melangkah tegar dalam limpahan emas yang berbongkah-bongkah.
Si kecil yang selalu bangun sebelum ufuk disambangi untai bening kekuningan, lintasi sungai, 10 meter dalamnya dan berarus deras untuk sekedar sekolah. Tapi si kecil tergambar selalu semangat.
Sedang si besar keluar dari garasi mewah, kendarai besi yang juga mewah untuk ke sekolah yang tak kalah mewah. Tapi si besar selalu mengeluh, “ah, malas!”, seperti itu kalimat yang terupdate di beranda jejaring sosial. Si facebook lah, si twitter lah.

Kalau begitu mengapa tak ditukar saja? Si besar jalani peran si kecil, apakah yang terjadi? Mungkin si besar akan hanyut di sungai tadi, sungai keluhan yang ganas berbuih-buih karena tak kuat harus hadapi arus kencang yang biasa dianggap rutinitas makan pagi bagi si kecil. Jadi disini siapakah yang sebenarnya kecil? Siapa yang sebenarnya besar?

Penggambaran si besar dan si kecil bukanlah sekedar perumpamaan di skenario opera sabun. Ketimpangan itu nyata tergambar turun menurun. Hierarki sistem ini yang harus di ubah, jika tidak, kiri semakin membesar dan kanan semakin mengecil.

Dan akhirnya dapat tergambar, chaos, ketimpangan sosial tumbuh subur bak jamur disirami hujan. Tak usah berkhayal untuk mengubah hierarki secara serentak, perubahan kecil yang terkumpul lah yang dapat.

Ketimpangan harus diberantas, diberangus dengan proses tanpa menghasilkan abu dan sisa. Mindset harus total disulap, tak boleh lagi ada perbedaan dan diskriminasi, hilangkan sebutan si kaya dan si miskin.

Bukankah dunia ini indah, jika tak ada lagi si kecil dan si besar, jika tak ada lagi mayor dan minor, jika tak ada lagi yang menyakiti dan disakiti, jika tak ada lagi mainstream dan independen.

Sumber Gambar: http://s2.favim.com/orig/32/alone-boy-cap-city-college-Favim.com-253219.jpg

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s