Selimut Individualis

“Masuk, sampah!”
“Braaak!”

Dua orang berseragam melemparku ke dalam sel. Mereka melemparku seperti sampah hingga aku jatuh tergeletak cumbui dinginnya lantai. Mereka tidak peduli lagi, walaupun tubuhku penuh lebam dan darah. Mungkin yang mereka pedulikan hanya gaji mereka yang akan dibayarkan setiap tanggal muda, sampah sepertiku hanya menambah-nambah tugas mereka yang sesungguhnya sedikit.

Pintu sel dikunci, tak lama mereka pun pergi.
“Heh!”
Aku tak menjawab, hanya ku lirik arah sumber suara. Tampak sesosok lelaki berbadan tinggi besar dengan wajah berjambang dan rambut tak terurus.

Dia mengulurkan tangannya
“Welcome to the club, bro… Gue Jon.”

Aku hanya diam, membalas uluran tangannya pun tak sudi. Ku palingkan badanku dari arahnya, kembali menatap dunia yang kini hanya sebuah perspektif yang tergambar dari sela-sela batangan besi yang berada di depan mataku. Dunia terasa menyempit, begitu sempit. Hingga seluruh badanku merasa tercekik.

Ilustrasi

3 April, 1983

Tepat 2 tahun aku berada di sini, pembuangan orang luar menyebutnya. Tempat yang sangat pantas bagi orang hina sepertiku, tidak! Bahkan mereka sebut prodeo ini terlalu mewah. Setiap hari, hanya seputar dinding, sel, dan jendela sempit di sudut ruangan. Terkadang para penjaga melepaskan kami, para tahanan, untuk sekedar makan dan berkegiatan alakadarnya. Dan mengenai Jon, teman satu sel-ku itu, dia masih tetap berkata-kata untuk sekedar mengajakku berbicara walaupun aku seringkali tak menggubrisnya.
Sampai suatu sore..

“Tepat 2 tahun lu masuk sini, tepat 2 tahun juga lu belum bisa nerima kalo inilah tempat yang tepat buat lu. Hahaha.”

Darahku langsung naik, ku layangkan kepalan tangan tepat di depan wajahnya, dia membloknya.

“Lu tau, disinilah tempat kita. Tempat yang tepat buat korban dari kelabu sistem dunia. Dan walau kita sebagai sampah sudah bebas nanti, kata lainnya kita finish di daur ulang di sini, manusia luar tetep ga bakal nganggap kita. Sekali kita hitam, kita akan tetap dipandang hitam. Manusia luar ga pernah sadar kalo mereka pun sama seperti kita, pernah melakukan salah. Bedanya mereka so suci.”

“Terus mau lu apa? Mati membusuk di tempat ginian?” aku menimpali.

“Asal lu tau, walaupun kita udah bebas nanti, kesan kita di mata mereka tetap sampah. Hakekat dasar manusia adalah dekat kalo butuh dan sekarang, siapa yang butuh sampah?” Orang di depanku ini tampak terpenuhi emosi, tampak sekali lekukan kelu hidup telah ditelannya bulat-bulat.

“Dan kenapa lu bisa di sini? Genosida? Pembunuhan? Ato Nyolong sendal jepit?” Jon kembali bertanya.

“Garis keras, gue ditangkep gara-gara gue lemparin sepatu ke muka politisi waktu mereka konfrensi pers.”

“Hahaha, jadi lu anggota sektor 13? Kelompok pengkritisi negeri yang katanya solid, kompak, semboyan kalian mati satu dibalas seribu? Gaung ulah kalian jadi gosip para sipir di sini.”

“Yap,” aku menjawab

“Dan saking solidnya sampe ga ada satu temen lu pun yang datang saat sekarang lu di sini, di pembuangan. Bener-bener solid sektor 13 ternyata. Hahaha.”

Aku terenyuh.

***

Januari, 1992

3 tahun sudah ku hirup udara bebas, tapi tak berubah, duniaku tetap seperti terkungkung dalam lapas. Kebebasan ternyata klise, terutama bagi kami, kaum yang pernah melakukan langkah yang terlanjur berjejak hitam. Benar seperti apa yang dikatakan Jon, terpidana seumur hidup pembunuhan 10 manusia, kawan satu sel-ku dulu.

Nyaris tak ada yang berubah dari dunia, hanya tabung tv yang sekarang tampak lebih memukau, tampil dengan layar berwarna. Dengan acara yang semakin berwarna pula, berwarna kemewahan, terwarnai kisah kaum mayor, dan diwarnai iklan sabun mandi dengan menampilkan seorang wanita di dalam bathtub. Layar kaca selebar 21 inch tampak hanya 1 inch menampilkan kehidupan kaum minoritas. Sisanya hanya tayangan yang dapat menjaring seekor makhluk yang dapat mengisi kantong hingga menggembung. Makhluk itu bernama rating.

Pagi tadi di stasiun ku baca sebuah surat kabar pagi dengan headline seseorang yang menjatuhkan dirinya dari gedung tingkat 10 karena stres. Sekelompok orang yang duduk di dekatku memberikan sedikit senyum kecut bagai menertawakan kepada berita yang ku baca dengan volume sedikit keras itu, sebagian lagi memberi komentar seperti:
“Hidup itu keras, seharusnya orang itu lebih kuat. Di sini mental membuktikan bang.”

Hanya pria tua yang duduk paling pojok yang memberikan empati kepada berita tersebut.

Mereka yang berpandangan negatif tak pernah menyadari, bahwa sesungguhnya orang-orang seperti merekalah penyebab hal-hal seperti ini. Kerap kali mereka tak peduli kepada orang yang sedang tertekan, ketika orang-orang tersebut sudah tak kuat selami kelu hidup dan memutuskan untuk mengakhiri hidup dan akhirnya ketika berita tentang cara mereka mengakhiri hidup tercetak di lembaran surat kabar, mereka, orang-orang yang berpandangan netigatif itu hanya menertawakan. Sekali lagi perkataan Jon benar, orang luar pembuangan tidak pernah sadar terhadap kesalahan, mereka so suci.

Ternyata dugaanku tentang dunia yang tidak berubah selama aku hidup di dalam sel adalah salah. Tampak sekarang dunia terselimuti selimut individualis yang membuai setiap orang agar sibuk membuyarkan kabut masalah yang menyelimuti diri mereka masing-masing. Tak ada yang peduli terhadap yang lain. Dan jika terhadap sesama saja mereka tak peduli, bagaimana terhadapku yang hanya sampah?

Bandung, 2012

Sumber gambar: http://www.toonpool.com/user/1932/files/jail_257355.jpg

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Selimut Individualis

  1. Ya mas, saya setuju.
    saat ini banyak orang yang bersifat individual.
    Seharusnya kita sesama manusia harus bisa saling membantu, menyayangi, mengasihi, dan saling memberi.
    Sehingga kita bisa hidup nyaman dengan saling bersaudara.

    • pena usang says:

      Yoi mas, kebayang betapa tentramnya dunia kalo manusia saling menghormati, dekat bagai saudara, tapi kalo di liat dari keadaan sekarng yg serba individualis, susah kayanya buat jadi gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s