Pekerja Anak: Antara Kewajaran dan Realita

“Jika hidup adalah pilihan ganda, maka tercipta surga dunia”

Keadaan ekonomi yang kian menghimpit, semakin sulitnya mendapatkan pundi-pundi rezeki, akhirnya membawa mereka kepada satu pilihan yaitu makan, atau tidak. Walau umur mereka mungkin belum genap sepuluh, tapi lama sudah mereka bersahabat dengan peluh.

Sumber : https://i1.wp.com/gdb.voanews.eu/B859483D-9F8E-4985-ABA1-AE606DF11C00_w640_r1_s.jpg

Merinding, dan tentu juga miris saat saya membaca sebuah artikel di website VOA dengan judul Pemerintah Akan Tarik 11 Ribu Pekerja Anak yang diberitakan pada tanggal 11 juni 2012 yang menyebutkan di Indonesia terdapat sekitar 1,7 juta pekerja anak, data ini bersumber dari Organisasi Perburuhan Internasional. Di saat anak-anak lain dengan nyamannya menikmati fasilitas, belajar mengeja dari a sampai z, membongkar rumitnya rumus matematika dan merasakan bangganya mengenakan toga, mereka harus memeras peluh dalam kerasnya bekerja. Lalu apakah orang tua mereka tidak peduli dan tidak memberi mereka cukup makan? Tidak! Orang tua mereka tentunya seperti orang tua lainnya yang sangat menyayangi anaknya. Kebanyakan dari mereka bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, dan hal ini dilakukan secara sukarela tanpa dipaksa, sungguh mulia. Lalu apakah jika kita melarang mereka untuk bekerja dengan berdalih agar mereka tetap bisa menikmati kehidupannya sebagai anak-anak untuk tetap belajar dan bersekolah akan berhasil?
Sayangnya mungkin hal itu akan sulit. Jika kita memposisikan diri sebagai mereka yang harus menempatkan diri di tengah kian mahalnya biaya hidup, naluri alamiah kita untuk tetap bertahan hidup akan bekerja, kita pasti akan melakukan hal yang nyaris tak berbeda.

Masa kanak-kanak memang sewajarnya digunakan untuk menimba ilmu dan bermain, tapi keadaan yang kian menghimpit membuat tingkat kewajaran tadi berubah tanpa kompromi. Ini tentu bukanlah pilihan mereka, tak ada yang dapat memilih nasib.

Berdasarkan berita yang dilansir VOA yang merupakan pernyataan dari Jubir Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Suhartono, pada tahun ini pemerintah akan menarik sekitar 11 ribu pekerja anak. Tutor dari kementrian pendidikan dan kebudayaan yang bekerjasama dengan LSM berencana melakukan pembinaan di shelter selama satu bulan yang bertujuan merangsang minat mereka untuk kembali mengikuti pendidikan formal maupun informal, setelah itu akan disekolahkan.

Semoga program tersebut berjalan tanpa hambatan berarti dan sesuai perencanaan, tetapi saya menyarankan agar pihak terkait ikut memikirkan masalah biaya lain yang tetap harus dikeluarkan pihak orang tua seperti ongkos dan biaya tugas praktik yang biasanya dibayar secara pribadi. Jangan sampai niat mereka yang telah bulat untuk kembali sekolah terhambat faktor-faktor tersebut, karena masa depan Indonesia sejatinya berada di tangan mereka, generasi yang kerap kali kita abaikan haknya. Haknya sebagai generasi yang berhak mendapat pendidikan layak tanpa memandang latar belakang dan kemampuan finansial. Sedang di sisi lain kita terus berangan-angan dan berkeinginan agar Indonesia dapat lebih baik di masa datang.
Bukankah ini sama saja dengan bermimpi tanpa tidur terlebih dahulu?

Jika kita membicarakan masalah pekerja anak, benang merah yang pertama tertaut adalah tingkat kesejahteraan. Berdasarkan data BPS pada maret 2011, angka kemiskinan di Indonesia adalah sebanyak 30,03 juta jiwa atau 12,49% dari jumlah penduduk Indonesia. Data ini memang tidak dapat menghitung seberapa banyak anak di bawah umur yang bekerja atas dasar faktor kemiskinan, tapi data ini setidaknya dapat memberikan gambaran pada kita, karena seperti yang telah saya singgung di atas, kemiskinan memang menjadi salah satu faktor terjadinya fenomena pekerja anak.

Lalu adakah solusi?

Fenomena pekerja anak memang sulit dihilangkan jika kita hanya membersihkan di keraknya saja. Kita harus temukan akarnya. Menurut pandangan saya, salah satu akar dari permasalahan ini adalah kurangnya pekerjaan yang layak bagi orang yang (maaf) kurang pendidikannya. Sudah menjadi rahasia umum jika pendidikan yang bersifat dasar kurang diterima di dunia kerja, berbeda dengan dengan pendidikan tinggi yang sudah terspesifikasi. Kondisi ini akan menyulitkan orang-orang tertentu, maka ketimpangan sosial timbul dan kemiskinan dengan sendirinya terjadi di beberapa keluarga. Kondisi-kondisi yang saling berkaitan inilah yang menggerakan anak-anak untuk ikut membantu keluarga dengan bekerja, dan banyaknya pekerja anak akan semakin sulit ditekan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut. Maka salah satu cara untuk menekannya adalah membuka kesempatan kerja bagi lulusan tingkatan pendidikan tertentu yang telah saya singgung tadi.

Saya cukupkan tulisan ini, semoga tulisan ini membuahkan secercah cahaya manfaat khususnya bagi saya dan umumnya bagi para pembaca.

Referensi : *

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Pekerja Anak: Antara Kewajaran dan Realita

  1. Pingback: Pekerja Anak: Antara Kewajaran dan Realita « Kontes Ngeblog VOA

  2. dihas says:

    kasiannya karena orangtua mereka tidak merencanakan dan akan diarahkan kemana setelah kehadiran mereka…
    jd jangan coba-coba bikin anak…
    šŸ˜›

    • pena usang says:

      Tapi kan ada sebabnya juga, kurangnya orangtua dalam mengarahkan anak biasanya karena tingkat kesibukan (hal klasik, so sibuk), atau bisa jadi karena tingkat pemahaman orang tua tsb.. Punya anak=punya resiko untuk mendidik dan mengarahkan (bukan mencetak)

      Buset ente gan, ekstreem amat tuh pendapat. haha thanx visitnya gan šŸ˜€

  3. dorokdoc says:

    bener gan,kebanyakan lapangan pekerjaan menerima yang minimal lulusan SMA atau sederajat.
    jadi si orang tuanya yang dulu tidak di sekolahkan karna tidak mampu,terpaksa harus melakukan pekerjaan yang tidak memungkinkan memiliki penghasilan yang tinggi ataupun cukup.sampai pada akhirnya si anak terkena imbasnya juga akibat penghasilan orang tua yang kurang.
    dan bisa jadi terus menerus siklus nya seperti itu..
    solusinya: seharus nya lapangan pekerjaan tidak mewajibkan para pekerjanya minimal lulusan SMA/sederajat,
    toh banyak juga orang yang hanya lulusan SD malah lebih pintar ketimbang orang lulusan SMA.

    “tidak ada maksud untuk menyinggung atau apapun yang tidak berkenan,mohon maaf bila ada salah kata,saya hanya menuliskan isi hati yang terbaca oleh pikiran saya”

  4. pena usang says:

    Ane sependapat gan, karena kalo kita liat kesempatan kerja yang ada sekarang kebanyakan untuk yang berpendidikan tinggi saja.

    Lalu yang bikin ane aneh tuh, program wajib belajar kan 9 tahun, tapi kesempatan kerja buat yang hanya dapat menyelesaikan pendidikan sampe 9 tahun nyaris ga ada, baik di sektor negeri, bumn, atopun swasta.

    Kalo bgitu sebenernya fenomena pekerja anak tadi sebenernya terjadi karena ulah kita juga. Walaupun dilarang, tapi urusan perut kaga bisa kompromi ya gan hehehe

    thanks kunjungan dan komennya gan šŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s