Hipotesis Hujan dan Kecoa Gendut

Rona purnama, pekatnya mendung sisa gerimis tadi, terlihat jelas terbias di genangan air di persimpangan jalan kenangan. Mengapa di sebut jalan kenangan?
Mungkin karena jalan ini telah rekam banyak kenangan, atau mungkin juga karena jalan ini ada semenjak buyut dari kakek kita masih balita. Tapi entah, entahlah, tak ada yang tahu, atau bisa jadi tak ada yang mau tahu.

Malam itu hujan turun gerimis, gemerincik. Semilir angin buat daun bergoyang berisik, bangunan dari bata tanpa di plester berjajar di kanan kiri jalan, masih tetap sama seperti dulu.

Ah, dulu?
Mengapa Aku berkata itu?
Belum lah pernah aku tapaki kota ini, pertama inilah kakiku sapu jalan ini. Entah, aku tak tahu. Semenjak kejadian minggu lalu, sejak kapal kami tabrak ganasnya ombak Artik, sebagian ingatanku hilang entah kemana. Semenjak selamat dari kejadian itulah, sesuatu di diriku membawaku sampai di kota pelabuhan muram ini, kota tua yang konon tanahnya lebih rendah dari permukaan laut.

“Waaaaaa”
“duaaaaar”
“turun, turun, turun!”
Dari sekitar 10 meter di depanku terdengar ribut-ribut gaduh. Terbeber puluhan spanduk.
Ribuan orang saling melempar benda keras. Aku tak tahu, tepatnya aku tak mau tahu, sudah cukup ombak Artik membuat memoriku terganggu, aku tak mau benda-benda keras itu membuatku di rawat di ruangan bertirai putih lagi.

***

Tahun-tahun berlalu, tak terasa sudah sekitar 14 tahun semenjak pertama aku daratkan kaki di sini. Aku ingat, dulu aku masuki kota muram ini disambut gerimis, bukan air, tapi gerimis peluh ribuan orang yang beraspirasi.

Semenjak perda bergulir sampai kemarin cucu pertama presiden lahir, Cukup satu kata yang dapat gambarkan kota ini, “ganjil”, mengapa?
Ya, jika kita mau sedikit berteori dan meluncurkan sebuah hipotesis, kita bisa lihat ketika datang suatu waktu di pertengahan tahun, ketika hujan lebat berhari-hari itu terjadi, banjir mulai datang, kecoa-kecoa buncit mulai meradang. Mereka kuasai kota, mungkin ironis, ketika banyak orang di rundung derita karena rumah mereka terendam, kecoa-kecoa ini malah kaya berjaya! Mereka mengangkut makanan dari rumah penduduk saat penduduk mengungsi, mengambil apa yang jadi hak penduduk. Mengangkutnya ke suatu tempat.

Suatu pagi, aku habiskan koin-koin terakhir gajiku di sebuah kedai eksentrik yang terasnya sudah terendam banjir.

“Ini sudah berlangsung menahun, kecoa-kecoa itu harus kita basmi!”,ujar pemilik kedai.

“Sudahlah, untuk apa kita marah, kita tak tahu di mana mereka, aku pernah dengar teori kalau para kecoa gendut itu kebal, mereka akan tetap hidup walaupun kita putuskan kepalanya”, ujarku sambil meneguk kopi hitam ekstra pahit sembari mengangkat kakiku yang terendam air, tampaknya kedai ini sudah terendam, air sudah naik melewati tumit.

“Kita gempur, lalu kurung mereka. Menurut gosip, sekarang mereka mulai menguasai sebuah gubuk mewah beratap lengkung yang dicat hijau. Sepertinya sebagian dari mereka akan bersarang di situ !”, seorang bapak tua berambut putih yang duduk di pojok kedai ikut berbicara dengan nada menahan emosi.

“Walaupun kita berhasil mengurungnya, aku yakin mereka dapat meloloskan diri dengan ajaib, mereka terlalu kuat dan banyak. Sudahlah !”, ucapku.

Yah, sekelumit rangkaian tentang banjir dan wabah kecoa menahun itu memang lebih dari cukup untuk putuskan urat kesabaran para penduduk.

Mengenai tempat mereka menumpuk makanan jarahan itu, tentang dimana tempat di mana mereka berlindung setelah banjir surut, juga mengenai di mana para pembasmi kecoa itu saat para kecoa beraksi, entah, tak ada yang tahu…

Aku yakin para peramal hebat yang biasa meramal menggunakan setumpuk kartu di layar kaca itu juga tidak tahu di mana tempat itu.

Jalan Kenangan, tahun ke 67

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Hipotesis Hujan dan Kecoa Gendut

  1. Ron Weasley says:

    Gubuk mewah bercat hijau,kecoa gendut,cucu pertama presiden,sudah 14 tahun,tahun ke 67..jelas bgt bung haha. Bsa di comot abang yg atu ni kalo jaman orba,tapi awak dukung,Indonesia butuh tulisan2 kritis macam ni,bukan roman2 picisan yg bersliweran dgn mengatasnamakan sastra ! terus maju bang, !

  2. bagus banget tulisannya li !
    terus berkarya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s