Atas Nama Keabsrudan Dunia (2nd Part)

Jangkar-jangkar telah aus berkarat, dek kapal-kapal tua yang ditinggalkan para nakhodanya yang juga tua itu sudah mulai berlumut termakan usia. Mereka kini hanya tersandar malas terikat tali usang di dermaga. Pemandangan yang jauh berbeda dengan 10 tahun lalu, tahun-tahun di mana aku, Jaki dan Karno sering berkumpul di dermaga demi melihat kapal-kapal tua itu berlayar ke barat, tepat menuju bulatan matahari yang perlahan tenggelam bagai masuki laut. Sungguh pemandangan yang tak bisa dibeli, walaupun dengan lembaran Rupiah yang menggembung di balik saku para penjahat berdasi yang biasa mondar-mandir di tabung tv.

“Mmmmh,” bau laut yang sungguh menyegarkan kepenatan.
Tiba-tiba jauh dari selatan seseorang setengah berlari datang mendekati, tangannya melambai-lambai, rambutnya yang panjang menggapai-gapai, jambangnya berjuntai-juntai. Pasir pantai tersibak oleh celananya yang cutbray.

“Woooy!”

tak lain tak bukan lelaki ini adalah bocah yang dulu ku kenal, walau 10 tahun tak pernah bertemu, wajah dangdutnya tetap sama, nyaris tiada berubah.

“Bung, dunia kejam sekali. Orkes dangdut MJ rintisanku di perantauan bangkrut! Ironis! Padahal kami sudah terkenal di sebelas kecamatan, sepuluh tahun perjuanganku hangus sudah bung! Bayangkan bung! Sepuluh tahun bung! Sungguh teerlaaallu”

Setiap sudut tubuh Karno dipenuhi kekecewaan. Tapi walau begitu, sudut bibir dan nada bicaranya tetap isyaratkan bahwa liukan cengkoknya pernah rajai sebelas kecamatan.

“MJ?”

“Iya bung, ODMJ ! Orkes Dangdut Maju Jaya!”

Dentuman kendang mungkin telah menggeser urat kewarasan kawanku ini sepersekian mili. Maju Jaya, itu lebih mirip nama badan koperasi.

“Kalian, bagaimana nasib di perantauan? Tetap tidak beruntung kan?
Aku pun begitu, idealisme buatku dipecat perusahaan ibu kota.”

Kami menoleh dan ternyata Jaki.

Hidup susah sejak polos akan dunia, 10 tahun berkelana ratusan mil mencari secercah kecerahan hidup, tetapi sekarang tetap dicampakkan dunia.

Hari ini, kami memutar mundur laju lorong waktu yang absolut maju. Bagai kembali ke saat 10 tahun yang telah barlalu kelabu. Kembali ke pantai ini, kembali jauh menatap laut, langit dan awan yang terlukis indah tapi semu terselimuti kemunafikan dunia.

pandangan kami menyibak-nyibak sela-sela haluan kapal yang tersandar, lalu lurus jauh menatap horison yang langsung bertepikan langit dan mentari sore yang angkuh berpendar, berharap temukan keadilan Tuhan yang mungkin tersembunyi di balik liukan awan.

***
Kamar Sakit, 2011

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s