Antara Bumi, Karat Jiwa dan Langit

Antara bumi, karat jiwa dan langit. Lalu di mana aku?
Aku tidak pernah tahu di mana jiwaku, jiwa yang terasa selalu melayang ciptakan imaji-imaji liar dan gila yang membuatku semakin tak waras hadapi realita dunia. Jika engkau membaca ini mungkin akan langsung berpikir aku hanya seorang anak tanggung labil, lebay dan sudah gila. Mungkin itu ada benarnya. Aku akui aku hanya sekedar orang goblok, bukan orang pintar seperti kalian, bukan juga orang baik nan sholeh yang selalu ada di tempat ibadah.

Hahaha

Mungkin bagi kalian yang memiliki otak pandai, lamunan ini tidak akan terjadi, karena mungkin waktu kalian tersita untuk berkutat mengadakan observasi sana-sini. Sorbonne’s schoolarship mungkin telah kalian genggam sebelum kalian membuka jilid buku dan kalian dapat dengan mudah menggenggam dunia. Kesensitifan kalian terhadap hidup akan berkurang, maka bersyukurlah aku sebagai orang bodoh.

Engkau yang membaca ini juga mungkin hanya akan menyebutku orang yang stress, banyak keinginan dengan kemampuan yang tidak ada. Selamat!
Kalian benar!
Orang goblok mungkin akan seperti itu, seperti aku. Mungkin bagi kalian yang memiliki cukup kemampuan untuk menggapai apa yang kalian inginkan, kalian akan merasa diri kalian tinggi, paling hebat dan merasa revolusioner. Maka bersyukurlah aku sebagai orang goblok.

Jika kalian, para pembaca yang budiman dan budiwati berkata bahwa aku orang lemah karena tertekan kondisi lalu menulis ini sebagai sekedar curahan hati, coba kalian pikirkan, apakah pernah kalian memikirkan diri dan hidup kalian sebagaimana cara-cara di atas?
Maka aku akan balik bertanya, sebenarnya sekarang siapa yang lemah?

Lalu mungkin kalian akan berdalih bahwa aku tidak bisa bersyukur?
Sudah aku bahas di atas aku bukan orang religius, walaupun begitu terkadang terselip di sujudku terima kasih atas segala nikmat-Nya.

Aku menulis ini bukan didasari kebencian, ayahku dulu selalu mengajarkanku untuk tidak membenci walaupun kita di benci,ini sekedar ajang introspeksi, bukan untuk kalian, tapi untukku.

Lalu kalian akan menebak aku menulis ini karena aku telah mencapai titik jenuh?
Sayangnya aku tak tahu.

Kawan,dunia ini serba relatif. Aku, si orang bodoh berpandangan bahwa rumus-rumus tidak akan bisa menerka alam nyata. Terlalu banyak faktor fisik yang diabaikan dalam formula-formula itu. Jika kalian menentang pendapatku ini, aku sebagai orang goblok akan bertanya, mengapa selalu ada korban jiwa di saat gempa? Bukankah rumus-rumus kalian itu dapat pastikan semua?

Dunia ini relatif, tak ada prediksi pasti. Hanya satu yang absolut untukku. Yaitu perasaan muak yang terseret ke tenggorokan setiap mereka berbusa-busa. Yah, mereka itu kalian. Kalian yang selalu berpakaian bersih berjas rapi yang selalu berkoar dengan nada serius hampir setiap malam di tabung tv. Ironis sekali, dengan ruangan megah bernilai uang yang tidak berani aku bayangkan jumlah nolnya itu, kalian berani rapat setengah tertidur. Salut jempolku terangkat untuk kalian yang sampai berkeringat perjuangkan aspirasi membela kami. Tapi kepada kalian yang bersikap melebihi bromocorah, suaraku telah parau mengutuki. Dengan bangga bermobil mewah kalian berkeliling kota terkawal polisi. Di situkah rasa bangga kalian?
Tersenyum sana-sini melambai tangan bak Napoleon menang perang. Tidakkah kalian lihat?
Wajah-wajah polos berhias keluguan khas balita terlunta mengadah langit terletak hampir di setiap perempatan kota. Apakah sengaja kalian biarkan sebagai perhiasan belaka?

Hal-hal ini membuat jiwaku semakin berkarat, terkorosi keduniaan dunia yang secara sadar ku konsumsi.

Hal yang cukup untuk telah menyeret jiwaku masuk pusaran kemuakan. Kemuakan akan ketimpangan yang menjamur memarasiti Republik ini yang kian hari semakin mengembang bagai adonan tepung yang diuleni ragi. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Tak ada!
Tak ada yang bisa dilakukan oleh orang goblok sepertiku. Hal ini membuatku makin terasa busuk dan terus terperangkap di kota yang kian berkarat terkorosi invasi ketidakadilan yang ku cipta-cipta sendiri, kota itu tak lain dari pikiranku yang kian sempit tergilas ketidakpercayaan.

***

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Artikel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s