Atas Nama Keabsrudan Dunia (1st Part)

Sore itu, kelabu mendung lingkupi kota, suasana yang sama dengan saku kami yang semakin tak bernyawa. Tak beda pula dengan pos kamling yang semakin reot ini, bilik bertambal di sana-sini.

“Lihatlah si Rama busuk itu, sekarang dia telah lanjutkan sekolahnya di negeri bermenara miring itu!” aku bersungut-sungut memecah keheningan.

“Lalu siapa peduli?
Yang penting bagiku hanya kenyang atau tidaknya perut keluargaku,” Jaki menimpali

Karno masih berkutat mendengar ocehan radio bututnya yang terkadang terbatuk.

“Aku peduli!
Dia anak koruptor!
Dia juga tak jauh bodohnya denganku, pasti sogokan yang mengizinkan dia mengikuti pertukaran pelajar!
Sementara kita?
Harus putus sekolah karena keabsrudan dunia!” aku kembali beremosi.

“Dunia mana yang kau sebut absurd?”

“Lihatlah kawan, kantong para koruptor semakin menggembung, anggota dewan mengoceh meminta kenaikan gaji sementara gaji mereka seratus kali lipat upah kita! Pagi aku berpeluh di pabrik cakwe, sore ku habiskan di saban perempatan demi menjual lembaran berita busuk negeri ini. Sementara sebagian dari mereka, hanya rapat sana-sini tanpa realisasi untuk negeri. Hidup ini sungguh tak adil!” emosiku meledak tinggi.

Karno tetap menikmati radionya.

“Hidup itu memang tidak adil! Maka biasakanlah!”

Aku terdiam, suasana seakan mendadak berubah senyap, semuanya terdiam.
Kini yang terdengar hanya suara penyanyi dangdut yang meliuk-liuk dari radio Karno.
Dan Karno yang dari tadi terdiam tiba-tiba angkat bicara dengan nada bicaranya yang memang berwibawa. Entah mengapa, suara dan cengkoknya saat itu sangat mirip sekali dengan bang Rhoma, sang raja dangdut.

“Dengarlah kawan, Rhoma Irama dengan senandung….darah muda.”

Gubraak!

***

“Maaf, saya kira skenario-skenario yang anda tulis sudah tidak sejalan dengan rating, anda terlalu idealis, penonton mungkin telah bosan dengan suguhan cerita anda yang terlalu mengedukasi.”

Benar firasatku, atasanku ini memanggilku ke ruangannya hanya untuk memberiku hadiah berupa surat pemecatan.

“Tapi pak, bukankah dalam menyuguhkan suatu tayangan kita harus menyampaikan suatu pesan moral, sehingga penonton tidak hanya menonton, tapi juga dapat memetik hikmah pembelajaran dari suatu tayangan,” aku mencoba berdalih.

“Tahun berapa ini bung?
Lihatlah stasiun televisi sebelah, dengan cerita nyaris ngawur dan alur kesana-kemari dapat dengan mudah mendapat rating wahid!”

“Tapi Pak…”

“Sudahlah, kita hanya stasiun tv, bukan lembaga edukasi. Yang dibutuhkan hanya uang. Dan uang bagi kita itu tak lebih berdasar dari rating!”

Belum sempat aku membalas…….

“Tapi mungkin jika anda dapat berubah, jika anda dapat memperhatikan rating dan sedikit menyingkirkan idealisme, akan kami pertimbangkan.”

Jadi maksud bapak ini adalah aku harus berubah, menulis skenario drama kejar tayang berdasar rating, persetan dengan makna apa yang ingin disampaikan, tak usah pedulikan inti cerita dan tanpa memerhatikan apa yang penonton dapat ambil. Tak sudi!

“Saya resign…”

Dengan tangan terkepal, ku langkahkan kaki keluar. Segera aku pulang ke rumah sewaanku, kemasi barang-barang. Hanya satu yang terpikir… Pulang, pulang ke kota kelahiranku, kota yang identik dengan pelabuhan, kapal dan jangkar.

***

Kereta terus melaju dengan kecepatan nyaris absolut. Aku dilingkupi kemuakkan, bahkan lebih memuakkan dari bau keringat para penumpang yang telah menjadi satu dan berseliweran di udara yang secara terus menerus ku hirup. Kota demi kota telah dilewati, tapi sungguh aneh, yang ada hanya pemandangan, pemandangan yang terkomposisi dari baligo dan spanduk. Isinya sama, nyaris tanpa beda. Hanya politik, politisi dan segala ocehannya yang membuatku muak semuak-muaknya. Tampaknya merantau tak memberiku perubahan walau hanya sepersekian persen. Sepuluh tahun keabsrudan!

Bau laut! Kota itu sudah dekat. Besi tua yang berbentuk gerbong-gerbong ini akhirnya berhenti. Ku langkahkan kaki keluar kereta, pemecatan masih kelabu membayang di antara orang yang berlalu-lalang. Masih ku cari makna yang tersirat dari semua ini. Ku langkahkan kaki ke pantai, tempat aku dulu berjanji bertemu dengan dua pecundang lain. Dua pecundang yang telah ajarkanku tentang begitu absurdnya dunia ini.

“Bung, apapun yang akan terjadi. Setelah sepuluh tahun, pulanglah dari rantau. Berkumpul di pantai ini. Tepat 28 Agustus!”

Remang ku ingat Karno mengepalkan tangan dan menatap tajam padaku dan Jaki 10 tahun lalu di atas putihnya butiran pasir, sehari sebelum kami berpencar menuju rantau.

……..

About Ali Bachtiar

love rock and serenity!
This entry was posted in Saung Fiksi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s